Katalog Buku
AKAR Indonesia, Carangbook, Framepublishing dan [sic]
Kontak: 081-22729237, 081227004439
Pengarang : Esha Tegar Putra
Tebal :123 halaman
Ukuran :13,5 x 20 cm
Harga : Rp. 25.000
Pengarang : Hajriansyah
Tebal :
Ukuran : 13,5 x 19, 5 cm
Harga : Rp. 30. 000
Tebal : 237 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Harga : Rp. 33.000
Politik Sastra (kumpulan esei)
Tebal : 204 halaman
Ukuran : 15 x 23 cm
Harga : Rp. 35.000
Berisi 25 esei Saut Situmorang, baik yang sudah dipublikasikan di media atau dipresentasikan di sejumlah forum. Menariknya, selain esei, Saut juga menyertakan manifesto politik boemipoetra (sebuah jurnal perlawanan yang ikut ia kelola), wawancara, pernyataan sikap sastrwan Ode Kampung dan Penolakannya atas KLA. Ini semua memperlangkap (atau menegaskan) benang merah keseluruhan eseinya yang sangat kritis dalam mengungkap ”malpraktek” dalam sastra Indonesia. Ia melihat misalnya fenomena kritikus sastra yang asal-bicara, tidak bertanggung jawab, dan berlindung di balik komunitas yang mendominasi lalu-lintas wacana, jaringan dan tebar pesona. Saut menegaskan kepada kita, bahwa politik (dalam) sastra tidaklah haram, sebab politik bagian dari seni yang mesti dikuasai dan diterapkan. Persoalannya, selama lebih 32 tahun, Orde Baru telah menciptakan ketakutan menyeluruh terhadap segala sesuatu yang berbau politik, apalagi yang berhubungan dengan seni/sastra. Dengan memisahkan politik dan seni, seniman/sastrawan menjadi terpisah dari persoalan keseharian, seni menjadi sebatas menara gading. Maka ”seni untuk seni” bagi Saut tampaknya sungguh tak relevan. Tentu, sebagai orang yang berlatar pendidikan sastra, Saut punya landasan yang kuat dalam merilis pernyataan dan gerakannya. Ia menguasai literatur dengan baik, sebaik ia menerapkannya di lapangan politik kebudayaan.**
Buku Terbitan Akar:
1. Mati Baik-baik, Kawan (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Martin Aleida
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Kata Penutup : Katrin Bandel
Tebal : 144 halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Harga : Rp. 27.000
Penerbit : Akar Indonesia, 2009
Buku ini merupakan pilihan dari karya Martin Aleida yang khusus berlatar Peristiwa ’65. Martin Aleida, pengarang yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943 ini, memang sangat intens dan konsisten menggarap tema peristiwa huru-hara politik tersebut. Konsistensi ini sampai-sampai memunculkan konsep kepengarangannya yang ia sebut sebagai ”sastra bersaksi”. Ya, sebagai salah seorang yang mengalami langsung tragedi kemanusiaan itu, Martin tidak hanya dimasukkan ke penjara tanpa pengadilan, tetapi juga disiksa dan setelah dibebaskan pun tak kunjung luput dimata-matai. Ia yang sejak awal berprofesi sebagai jurnalis dan pengarang, melanjutkan profesinya ini, namun dengan tantangan yang lebih besar: mengolah tragedi dari persfektif korban dan pelaku kekerasan. Tujuannya jelas: kemanusiaan. Katrin Bandel, dalam ”Catatan Penutup” menyatakan bahwa Martin Aleida adalah pengarang yang menulis ulang sejarah Indonesia dalam versi yang sama sekali berseberangan dengan versi Orde-Baru. Tampak dengan jelas bahwa ia bukan sekadar ingin menceritakan Peristiwa 65 dari persfektif yang berbeda, tapi bahwa ia punya misi untuk melawan pemalsuan sejarah dengan memberikan sejumlah fakta (yang diolah ke dalam cerita) yang selama ini tidak diketahui secara umum oleh masyarakat Indonesia.**
2. Dongeng-dongeng Tua (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Iyut Fitra
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Tebal : 138 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 27.000
Penerbit : Akar Indonesia, 2009
Puisi-puisi Iyut merupakan gabungan melankoli dan pemberontakan tersembunyi, bersumber dari khazanah kampung-halaman, Minangkabau, yang kaya tradisi bakaba (dongeng, cerita), dan meluas ke tataran ”kampung nasional”, jika bukan ”kampung global”. Oleh karena itu, kegelisahan personal berhasil diperkayanya dengan persoalan kolektif, dalam bangunan bahasa yang indah. Sapardi Djoko Damono memberi catatan,”Penggunaan sejumlah kearifan setempat dalam puisi Iyut tidak sekadar memoleskan warna dan suasana, tetapi menggarisbawahi makna cinta, perjuangan hidup, dan rasa sunyi yang bisa dibaca di antara larik-lariknya.” Sedangkan Acep Zamzam Noor, penyair yang juga pelukis menyatakan,”Bagi saya puisi-puisi Iyut Fitra mempunyai kesan visual yang kuat. Ia mempunyai kesabaran dalam menyusun detail sehingga apa yang digambarkan begitu kaya dan berwarna.”
3. Gema Secuil Batu (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Iswadi Pratama
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Tebal : 95 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Harga : Rp. 27.000
Penerbit : Akar Indonesia, 2008
Berisi 49 judul puisi pilihan Iswadi Pratama, penyair kelahiran Lampung, 8 April 1971. Penyair yang juga seorang sutradara ini relatif tenang, tidak meledak-ledak dalam mengungkapkan peristiwa dan pengalaman puitiknya, sekalipun yang diungkapkan itu adalah tema-tema sosial dan ketersisihan yang akut. Justru, dengan mengambil sikap tenang, puisi-puisi Iswadi menyimpan geram yang dalam, kesunyian yang dingin dan perasaan ngelangut. Kita dibuat terhanyut dalam metafora yang dirangkai secara sederhana dan bersahaja, namun benar-benar sangat khas dan personal. Ini cocok dengan konsepsi Iswadi dalam pengantar singkatnya, yang mengibaratkan proses kreatifnya sebagai orang yang melempar secuil batu ke dalam kolam dan menimbulkan pendar di permukaan air, namun terasa hendak mengabarkan kedalaman.
4. Penunggang Kuda Negeri Malam (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Ahda Imran
Kata pembuka : Miranda Risang Ayu
Kata penutup : I Bambang Sugiharto
Tebal : 148 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Harga : Rp. 30.000
Buku kumpulan puisi tunggal perdana Ahda Imran ini berisi 70 sajak terpilih periode 1995-2008 atau sekitar 13 tahun proses kepenyairannya. Selain menyair, Ahda dikenal luas sebagai penulis tetap rubrik seni budaya (”Khazanah”) di Harian Pikiran Rakyat, Bandung. Liputannya tentang seni pertunjukan, pameran lukisan dan fenomena kebudayaan yang muncul saban pekan, meninggalkan jejak tersendiri dalam penciptaan. Ada persentuhannya yang khas dengan realitas, dan diterjemahkan kembali lewat pencandraan interpretasi. Jadilah persoalan sosial di sekitar menyusup halus dan menghanyutkan. Ibarat penunggang kuda di negeri yang selalu malam (gelap), Ahda bersaksi dan mendedahkan kesaksiannya itu kepada kita.
I Bambang Sugiharto mengakui, membaca puisi Ahda adalah membaca realitas sebagai suasana, suasana kecemasan yang panjang dan mencekam: menatap wajah dengan “seekor anjing bermata satu mengintai dari bayang di genang air tenang” (puisi “Penghujung Tahun “). Dalam melukiskan kecemasan itu, puisi-puisi Ahda adalah imaji-imaji yang tepat, padat dan kuat. “Sesuatu sedang terjadi”, katanya, “Bayi-bayi lahir dengan lidah bersisik, dan ibu mereka adalah burung-burung gagak”.
Sementara Miranda Risang Ayu, seorang ibu rumah tangga di Bandung, yang didaulat memberi semacam kata pengantar menyatakan bahwa ia menemukan proses, aneka peristiwa dan kesunyian dalam buku ini. Semua itu memberi kekuatan untuk mencerna realitas di sekitarnya.
Buku ini kian menarik lantaran dihiasi drawing sejumlah pelukis tenar kota Bandung yang khusus dibuat untuk merespon puisi-puisi Ahda. Mereka adalah Tisna Sanjaya, Isa Perkasa dan Diyanto. Sementara desain cover dikerjakan oleh Sunaryo. **
5. Ratusan Mata di Mana-mana (Jurnal Cerpen # 09)
Pengarang : Frans Nadjira, Martin Aleida, Yanusa Nugroho, Zulkarnaen Ishak,
Kiswondo, Shiho Sawai, dll.
Tebal : XVIII + 182 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 38.000
Jurnal Cerpen Indonesia (JCI) terbit sejak tahun 2002, bersamaan dengan berlangsungnya Kongres Cerpen Indonesia di berbagai kota di Indonesia secara rutin. JCI digawangi oleh Ahmad Tohari, Bakdi Soemanto, Maman S. Mahayana, Joni Ariadinata dan Raudal Tanjung Banua.
JCI edisi 09 boleh dikatakan edisi “ideal” sebab memuat cerita pendek dan esei relatif seimbang. Ada 7 cerpen dengan berbagai gaya dan tema. Ada yang kontemplatif, liris, dan ada pula yang berbentuk memoar. Para penulis cerpen edisi ini adalah Frans Nadjira, Martin Aleida, Mezra E. Pellondou, Gde Agung Lontar, Fahrudin Nasrulloh, Hery Sudiono, Yanusa Nugroho dan Zulkarnaen Ishak. Sementara itu, ada tiga esei yang bertolak dari akar persoalan yang relatif sama, yakni jejak konflik, seperti Harris Effendi Thahar yang menulis konflik PRRI dalam cerpen-cerpen Soewardi Idris; Kiswondo meneliti konflik 1965 dalam empat cerpen Indonesia dan Shiho Sawai yang menulis konflik pasca-kolonial dalam cerpen-cerpen perempuan buruh migran di Hongkong.**
6. Regenerasi dan Panggung Muda Cerpen Indonesia (Jurnal Cerpen # 10, edisi
khusus cerpenis muda pilihan)
Pengarang : Fahrudin Nasrulloh, dkk.
Pengantar : Joni Ariadinata
Pengulas : Nenden Lilis A
Tebal : XII + 296 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 35.000
Ini merupakan Edisi Khusus cerpenis mutakhir tanah air yang diundang secara khusus dan terbuka. Redaksi kemudian memilih ratusan karya yang masuk, dan akhirnya didapatkan 19 cerpen dari para cerpenis muda yang tersebar dari berbagai kota di tanah air. Tema-tema yang mereka usung relatif beragam, dengan bahasa ekspresi yang kuat dan menampilkan estetika terkini dari cerpen Indonesia. Menariknya, jika selama ini muncul kekhawatiran atas minimnya perempuan penulis, maka dalam edisi ini keberadaan mereka cukup berimbang. Tak kalah menariknya pula, banyak nama yang muncul bukan nama yang dikenal secara “popular” di media mainstream, katakanlah sastra koran, namun muncul nama-nama yang selama ini memilih prosesnya sendiri. Penulis dalam edisi ini ialah Fahrudin Nasrulloh (Jombang), Wa Ode Wulan Ratna (Jakarta), Kadek Sonia Piscayanti (Singaraja), Fina Sato (Bandung), Hasan Al-Banna (Medan), Nurul Hanafi (Bantul), Azizah Hefni (Malang), Yuni Kristianingsih (Ponorogo), Dyah Merta (Yogyakarta), Sandi Firly (Banjarbaru), Sunlie Thomas Alexander (Bangka), Ahmad Muchlis Amrin (Madura), Mahwi Air Tawar (Yogyakarta), Dalih Sembiring (Jakarta), Pandapotan MT Siallagan (Pematangsiantar), Ragdi F. Daye (Padang), Hendra Kasmi (Aceh), Jusuf AN (Wonosobo) dan Bramantio (Surabaya). Untuk melihat capaian mereka, Redaksi mengundang khusus kritikus sastra dari UPI, Bandung, Nenden Lilis A.
7. AKIB: Penyair Cakrawala Sastra Indonesia (Kumpulan Telaah Puisi)
Pengarang : Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, dkk.
Penyelenggara : Joni Ariadinata
Tebal : xxviii + 214 halaman
Ukuran : 15 x 23 cm
Harga : Rp. 50.000
Penerbit : Akar Indonesia, 2008
Buku ini merupakan telaah puisi yang dikerjakan oleh para pengamat, kritikus dan kreator atas puisi-puisi Abdul Kadir Ibrahim (AKIB), khususnya yang terhimpun dalam antologi Negeri Airmata. Bahan itu ada yang berasal dari makalah diskusi, notulensi, maupun wawancara khusus. Penyair asal Tanjungpinang, kelahiran Natuna, Kepulauan Riau ini, sejatinya juga mengeksplorasi mantra, pantun dan berbagai khazanah rakyat Melayu dalam karya-karya kreatifnya. Hal ini setidaknya mengingatkan kita, bahwa bukan hanya Sutardji Calzoum Bachri yang berasyik-masyuk dengan akar Melayunya, tetapi juga ada sederet penyair lain yang tidak kalah kuat, seperti Abdul Kadir Ibrahim ini atau Ibrahim Sattah (alm) dari Tarempa. Setidaknya itulah yang diungkapkan oleh sejumlah penulis telaah dalam buku ini, mulai dari Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Maman S. Mahayana, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, UU Hamidy, MA, Dr. Irwan Djamaluddin, Hasanuddin WS, Jose Rizal Manua, Korrie Layun Rampan, Hamsad Rangkuti dan lain-lain. Sementara Joni Ariadinata dan Jamal D. Rahman dalam pengantar menyebut bahwa upaya penerbitan buku ini merupakan ”strategi budaya” yang menghasilkan telaah kritis atas buku puisi sekaligus kebudayaan Melayu.**
8. Di Lengkung Alis Matamu (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Johannes Sugianto
Pengantar : Joko Pinurbo
Tebal : x + 110
Ukuran : 13 x 20 cm
ISBN : 979-99839-3-2
Cetakan : I, November 2006
Harga : Rp. 20.000
Kumpulan puisi ini dapat dikatakan khas, setidaknya dilihat dari proses kelahirannya, yakni dari dunia maya. Penyairnya memang dikenal luas sebagai salah seorang aktivis sastra cyber, khususnya dalam blog www.blue4gie.com yang dikelolanya dengan intensif. Puisi-puisinya yang renyah, enak dinikmati, namun tanpa kehilangan contens sosialnya, menjadi garansi tersendiri untuk menyelusuri ranah kreatif Johannes. Untuk semua itu, penyair Joko Pinurbo merasa perlu menulis sepucuk surat yang disertakan sebagai kata pembuka dalam buku ini. Tulis Joko,”Jo, sajak-sajakmu seperti si bijak yang sedang membawakan renungan atau piwulang...”
9. Nyanyian Batanghari (Novel)
Pengarang : Hary B. Kori’un
Tebal : xx + 258
Ukuran : 14 x 20 cm
ISBN : 979-99838-0-0
Cetakan : I, Agustus 2005
Harga : Rp. 35.000
Sebuah novel yang sarat dengan ekspose peristiwa nyata, dipadukan dengan keliaran imajinasi, dalam ranah sejarah kontemporer Indonesia. Bercerita tentang seorang jurnalis bernama Martinus Amin yang menjalani pahit-getir perjuangannya sebagai aktivis bawah tanah. Berbagai gejolak sosial seperti kericuhan petani di Tongar, Pasaman, pembakaran kelapa sawit di Pangkalan Kerinci sampai peristiwa Mei 1998 dialami Martinus, yang membuatnya terpisah dari orang-orang yang mencintainya: Sari, Katrin, Sari!
Sastrawan Ahmad Tohari mengomentari buku ini sebagai berikut: ”Keberanian Hary B. Kori’un mendokumentasikan gerakan mahasiswa dan dampak kerusuhan Mei 1998 dalam novel ini, patut dihargai. Ditambah peristiwa-peristiwa penting lainnya yang terjadi di tanah air, dengan dilandasi riset yang cukup lengkap, membuat novel ini menjadi penting.Sangat menarik!”
10. Sebatang Ceri di Serambi (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Fakhrunnas MA Jabbar
Pengantar : Maman S. Mahayana
Penutup : Prof. Dr. Harry Aveling
Tebal : xxii + 168
Ukuran : 13 x 20 cm
Cetakan : I, November 2005
II, Juni 2007
ISBN : 979-9983-91-6
Penghargaan : Anugerah Sagang, 2006 dan 10 besar KLA
Harga : Rp. 27.000
11. Latopajoko dan Anjing Kasmaran (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Badaruddin Amir
Pengantar : Joni Ariadinata
Tebal : xii + 258 halaman
Ukuran : 13 x 20 cm
Cetakan : I, Februari 2007
ISBN : 979-998-382-7
Harga : Rp. 35.000
12. Karena Saya Ingin Berlari (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Pengantar : Putu Wijaya
Tebal : xxiv + 176 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2007
ISBN : 979-99839-5-9
Harga : Rp. 30.000
13. Para Pecinta Selat Phillips (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Hasan Aspahani, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, dkk.
Tebal : 144 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
ISBN : 979-998390-8
Cetakan : I, Maret 2007
Harga : Rp. 22.000
14. Hujan Meminang Badai (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Tri Astoto Kodarie
Pengantar : Maman S. Mahayana
Tebal : xxviii + 124 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2007
ISBN : 979-9983-88-6
Harga : Rp. 20.000
15. Emas Sebesar Kuda (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Ode Barta Ananda
Tebal : xii + 172 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Oktober 2007
ISBN : 979-1684-81-2
Harga : Rp. 28.000
16. Paus Merah Jambu (Kumpulan puisi)
Pengarang : Zen Hae
Tebal : x + 115 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Harga : Rp. 23.000
17. Ciuman Bibirku yang Kelabu (Kumpulan puisi)
(hard cover)
Pengarang : Mardi Luhung
Tebal : xii + 168 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 30.000
Framepublishing:
9. Nama Saya Tawwe Kabota (Novelet)
Pengarang : Mezra E. Pollandou
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Tebal : 120 halaman
Ukuran : 12 x 17 cm
Harga : Rp. 23.000
Nama Saya Tawwe Kabota merupakan kisah yang unik dari timur tanah air. Bersetting Tanah Sumba dengan padang-padang prairi, kuda, batu, madu dan tradisi Merapu, kisah terjalin lincah antara Kalli yang tegar dengan Bullu yang modern. Meski modern, toh Kalli memilih melakukan ritual suci, tawwe kabota, sebuah ritual tradisi Sumba untuk menyucikan aib. Persoalannya, semua itu dilakukan Bullu bukan lantaran ingin menikahi Kalli, orang yang dihamilinya, tetapi memilih menikahi gadis lain yang lugu dan sederhana, Ghole. Pada Ghole cinta sejati Bulu berlabuh, meski di sisi lain ia tak bisa lepas dari bayang-bayang Kalli. Pergulatan batin dengan segala kelok-likunya terus membayangi Bulu, sampai akhirnya ia bertemu seorang perempuan muda bernama Tawwe Kabota. Ternyata itulah anak yang dulu dikandung Kalli, dan nyaris terlupakan dalam hidup Bulu. **
10. Pesta Hujan di Mata Shinta (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Iqbal Baraas
Penyunting : Indrian Koto
Tebal : 138 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Harga : Rp. 25.000
Berisi 12 cerpen Iqbal Baraas, dari rentang waktu hampir 10 (sepuluh) tahun. Di tengah kecenderungan cerpen yang mengalun liris, Iqbal memilih ungkapan yang lugas sebagai sebuah ciri khas. Ceritanya melingkar dan tak tertebak akhirnya. Ia memasang ranjau pada setiap bagian ceritanya, dan dengan lihai membelokkannya jauh pada peristiwa lain. Berbagai tema direngkuhnya, mulai dari percintaan yang banal, romantika kehidupan wong cilik dan soal-soal personal seperti kehidupan rumah tangga. Gaya berceritanya yang mengalir, memadukan realitas dengan absurdisme, membawa kita ke wilayah ”dongeng modern” yang tanpa batas, mengingatkan pada mistisme Jawa ala Danarto dan teror menghentak ala Putu Wijaya.**
11. rumahlebah, ruang puisi Edisi 01
Penulis : Ahmad Nurullah, dkk.
Redaksi : Umbu Landu Paranggi, Frans Nadjira, Raudal Tanjung Banua, Nur
Wahida Idris, Faisal kamandobat
Tebal : 168 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 27.000
rumahlebah ruang puisi, merupakan media alternatif—semacam jurnal-- yang memuat khusus puisi dan segala hal yang menyangkut puisi seperti esei, resensi buku puisi, dan perbincangan dengan penyair. Dikelola oleh Komunitas Rumahlebah Yogyakarta, dan bekerja sama dengan Penerbit Framepublishing, jurnal ini akan terbit berkala sebagaimana halnya Jurnal Cerpen. Bedanya, jika Jurnal Cerpen khusus menerima karya asli (bukan terjemahan), rumahlebah menerima puisi dan esei terjemahan. Yang menggembirakan, di jajaran redaksi duduk penyair Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira, dua penyair kawakan yang tinggal di Bali, dan selama ini tidak mudah menerima tawaran untuk duduk di suatu sidang redaksi. rumahlebah edisi perdana ini memuat puisi Ahmad Nurulah, Riki Dhamparan Putra, Badrudin Emce, Y. Thendra BP, Sindu Putra, Syaifudin Gani, Saut Situmorang, IOA Suwati Sedeman, Bode Riswandi dan Walt Whitman (terjemahan Tia setiadi). Esei ditulis oleh Arie MP Tamba, Terry Eagleton (terjemahan Ari Widjaja), dan I Fahmi Panimbang. Sedangkan perbincangan penyair dilakukan dengan Aslan A. Abidin, penyair yang bermukim di Makassar.**
- Rumah Hujan (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Budy Utamy
Pengantar : Hasan Junus
Tebal : 101 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2008
ISBN : 978-979-168491-x
Harga : Rp. 22.000
- Loge (Novelet)
Pengarang : Mezra E. Pollandou
Tebal : 80 halaman
Ukuran : 12 x 18 cm
Cetakan : I, April 2008
ISBN : 979-168492-8
Harga : Rp. 15.000
Carangbook:
8. Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Maulana Achmad, Inez Dikara, Dedy T. Riyadi
Penyunting : T.S. Pinang
Pengantar : Hasan Aspahani
Tebal : xx + 118 halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Jumlah : 400 eksmplar
Harga : Rp. 25.000
Buku ini merupakan kumpulan puisi bertiga dari penyair aktivis bungamatahari, sebuah kelompok milis yang cukup populer di Jakarta dan dunia maya umumnya. Disunting dan diberi pengantar juga oleh dua sosok yang sudah lama malang-melintang di dunia cyber, yakni T.S. Pinang dan Hasan Aspahani.
Akmal Nasery Basral, jurnalis dan penulis, memberi komentar bahwa buku ini bukanlah sebuah karnaval kata-kata, meski digarap tiga kepala. Ketiga penyair justru berlomba memurnikan diri melalui gorong-gorong diksi, sebelum akhirnya bertemu kembali di dunia sunyi. **
[sic]:
12. otobiografi (kumpulan puisi)
Pengarang : Saut Situmorang
Tebal : 282 halaman
Ukuran : 15 x 23 cm
Harga : Rp. 50.000
Ini merupakan buku antologi puisi Saut Situmorang terlengkap. Selain dipilih dari dua antologi puisinya terdahulu, saut kecil bicara dengan tuhan dan catatan subversif, buku ini juga memuat puisi-puisi terbarunya serta puisi lama yang belum dipublikasikan (termasuk dalam bahasa Inggris). Puisi-puisi Saut mengusung beragam tema, mulai dari persoalan keseharian aku-lirik, sampai kepada persoalan bangsa yang ia sajikan secara kritis. Bahasanya jernih, tanpa pretensi mencanggih-canggihkan bahasa. Saut justru berusaha ”mencairkan” sakralitas puisi lewat konsepsi pastice. Yakni mengolah dan merespon puisi orang lain yang sudah dikenal, dan menciptakan teks baru di situ. Sebuah esei yang ia tulis sendiri, tentang bakat dan tradisi, menjadi semacam kata pembuka yang sangat kritis dan memotret realitas sastra Indonesia. **
13. Mata Air Akar Pohon (kumpulan puisi)
Pengarang : Nur Wahida Idris
Tebal : 99 halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Harga : Rp. 23.000
Merupakan antologi puisi perdana Nur Wahida Idris, yang dihimpun dari kurun waktu lebih 14 tahun masa kepenyairannya. Ia bukan penyair yang produktif dan publikatif, dan karena itu ia justru memiliki ruang kontemplatif yang lebih panjang. Intensitas pengendapan melahirkan metafor serta ungkapan yang kuat, seperti ”buah tangan matang sebelum kupersembahkan”, ”air muka kembali ke hulu” dan seterusnya. Puisi-puisi Nur Wahida pun bernas berisi, sebab tidak hanya melulu berpusar pada soal-soal rintih-curhat perempuan kasmaran! Sebuah pertanggungjawaban kreatif, diterakannya pada pembuka buku ini.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar